menjawab pertanyaan sdr. cristian soal apa itu Sekolah Inspektur Polisi, saya berusaha menjawab sesuai pengetahuan saya yang terbatas ini berhubung tugas saya di Akpol hanyalah sebagai Pembina/Pengasuh Taruna.
sepengetahuan saya, SIP adalah wadah bagi para lulusan Sarjana yang berminat untuk melanjutkan studinya di Kepolisian. sebenernya ini nama lain dari PPSS (Perwira Polri Sumber Sarjana) yang slama ini berjalan. perbedaannya adalah semenjak Polri mengambil kebijakan untuk penerimaan Taruna Akpol diambil dari 2 sumber (SMU dan Sarjana), PPSS mengambil siswanya dari sumber Sarjana khusus (kedokteran,penerbang). sedangkan SIP mengambil siswa dari sumber sarjana pada umumnya (SH,SSos dll).
bila PPSS penyebutannya adalah Siswa, sedangkan SIP adalah Taruna. akan tetapi masa pendidikannya lebih cepat dari Taruna sumber SMU ( kalo tidak salah 1 tahun 4 bln).
namun sepertinya program SIP ini tidak akan berlanjut, seiring munculnya kebijakan Kapolri agar Akpol setara dgn S1. dgn kata lain murni hanya menerima dari sumber SMU dengan masa pendidikan selama 4 tahun.
mudah-mudahan ini bisa menjawab. mohon maaf bila ada kekurangan informasi yang saya sampaikan di atas.
Selasa, 29 Desember 2009
Sejarah Kepolisian
Suatu negara tanpa adanya aparat yang melaksanakan fungsi kepolisian, niscaya negara tersebut tidak akan mampu bertahan lama, karena pelanggaran hukum akan leluasa dan akhirnya negara tersebut runtuh. Oleh karenanya fungsi kepolisian pasti ada di setiap negara, termasuk negara Republik Indonesia.
Di Nusantara ini, sudah mulai sejak zaman kerajaan-kerajaan, baik Majapahit, Mataram, maupun kerajaan-kerajaan lain, juga telah melaksanakan fungsi kepolisiannya. Walaupun dengan nama yang beragam. Pada zaman kerajaan Majapahit, fungsi kepolisian telah dilaksanakan oleh satuan yang dinamakan Bhayangkara. Kesat¬uan ini mempunyai tugas : Satya haprabu, Hanyakan musuh, Gi¬neung Pratidina, Tansatrisna. Tugas tersebut kini menjadi Catur Prasetia, yang merupakan landasan kerja anggota Polri di lapan¬gan. Begitu juga pada kerajaan Mataram, fungsi kepolisian dilaksanakan oleh badan yang bernama Kabupaten Gunung Polisi, yang mempunyai tugas menjaga tata tertib dan ketenteraman di daerah-daerah kerajaan dan juga membantu mengurusi soal-soal pemerintahan.
Pada waktu Nusantara di jajah oleh Belanda, fungsi kepoli¬sian juga ada dengan bermacam-macam badan yang melaksanakannya antara lain : Algemene Politie (Polisi Umum), Gewapende Politie (Polisi Bersenjata), Veld Politie (Polisi Lapangan), Cultuur Politie (Polisi Lapangan), Bestuur Politie (Polisi Pamong Praja).
Mengingat mulai pentingnya tugas Polisi maka pemerintah Belanda mulai mengadakan pendidikan Polisi. Pendidikan yang pertama untuk Agen Polisi (Politie Agent) di Batavia, Semarang dan Surabaya pada tahun 1911. Kemudian dengan berkembangnya tugas kepolisian dengan proses pendidikan serta keadaan daerah pendidikan pindah ke Bogor kemudian di Sukabumi (tahun 1925).
Yang menarik untuk dipelajari adalah kepolisian pada zaman penjajahan Jepang. Pemerintahan kolonial Jepang saat itu memben¬tuk kepolisian secara nasional tidak seperti zaman Pemerintahan Hindia Belanda, yang terdiri dari berjenis-jenis kepolisian. Sedangkan organisasi tersusun secara regional dengan masing-masing mempunyai pusat-pusatnya, seperti :
1. Kepolisian untuk Jawa dan Madura berpusat di Jakarta.
2. Kepolisian untuk Sumatera berpusat di Bukittinggi.
3. Kepolisian Timur Besar berpusat di Makasar.
4. Untuk Kepolisian di kalimantan berpusat di Banjarmasin.
Dengan demikian, pada waktu itu telah ada jalur Komando yang jelas dan pusatnya masing-masing sampai ke Distrik. Di samping itu jumlah polisi yang diserah terimakan Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Jepang, sebanyak 31.620 orang yang terdiri dari 10 Hopkommisaris, 117 Komisaris Polisi, 13 Wedana Polisi, 63
Hopinspektur Polisi, 88 Assisten Wedana Polisi, 545 Inspektur Polisi, 1463 Mantri Polisi, 513 Hopagen, 154 Hopposhis komando, 2.582 Poshis komandan/ Reserse dan 26.073 Agen Polisi.
Kemudian setelah kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, pada
sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan hari kedua tanggal 19 Agustus 1945, ditetapkan Kepolisian Negara RI berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, dengan bentuk organisasinya adalah Jawatan kepolisian Negara RI. Setelah terbentuknya Kepolisian RI ini, dengan kegiatan yang menonjol pada waktu itu adalah ikut membela tanah air, atau ikut peran serta dalam melawan penjajahan (Jepang). Dan pada tanggal 1 Juli 1946 setelah Polri di bawah langsung Perdana Menteri, dijadikan hari Bhayangkara (hari ulang tahun Polri). Pada tahun 1945-1950 peran kepolisian dalam mempertahankan negara cukup menonjol, termasuk tanggal 10 November 1945 di Surabaya perlawanan terhadap tentara Sekutu yang dimotori Inggris. Dalam peristiwa tersbeut perlawanan yang mempelopori pasukan istimewa mampu melumpuhkan tentara Sekutu. dari peristiwa tersebut sekarang hari Pahlawan dan A.H. Nasution mengatakan bahwa tanpa adanya keberanian polisi istimewa terse¬but, tidak akan ada hari Pahlawan.
Pada kurun waktu 1950-1959 dimana diperlakukan UUDS tahun 1950 sebagai UU dasar yang bersifat Perlementer, kedudukan Polisi tetap di bawah Perdana Menteri. Pada kurun ini kejadian penting adalah lahirnya Pol Air (5 Desember 1950). Dinas telekomunikasi pada jawatan kepolisian negara (27 Oktober 1951), Pasukan Polisi Perintis (11 Maret 1952), Persatuan Istri Polri yang diberi nama Bhayangkari (19 Oktober 1952), Tri Brata sebagai pengikat disiplin bagi Mahasiswa PTIK (3 Mei 1954) yang selanjutnya sebagai landasan moral anggota Polri. Penetapan hari Kepolisian yang pertama kali (1 Juli 1955), Polisi Lalu Lintas (22 Agustus 1955), Polisi Udara (1Desember 1955), Labkrim (5 Juli 1955), NCB (16 Agustus 1956). Pada kurun inilah banyak tonggak sejarah yang merupakan perkembangan organisasi Polri yang cukup baik, yang kemudian berkembang menjadi kesatuan Polri yang berkembang mengikuti zamannya.
Untuk kurun waktu tahun 1950-1966 telah banyak tonggak sejarah yang sangat mewarnai kondisi Polri dewasa ini, yaitu Polri menjadi anggota ABRI, keluarnya UU Pokok Kepolisian No. 13 tahun 1961, Kepolisian tidak lagi di bawah Pimpinan Negara, tetapi di bawah Men Hankam/Pangab. Pada kurun waktu ini pula telah dibentuk atau diresmikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Kepolisian (Seskoak). Setelah Polri menjadi bagian ABRI, maka pembinaan dan operasionalnya dikendalikan oleh Pangak, dengan demikian perkembangan kepolisian berikutnya banyak dipengaruhi oleh ABRI tersebut. Dari tonggak sejarah ini perkembangan Polri mulai tahun 1966-1998, banyak kritik dilontarkan tentang efekti¬fitas Polri dalam ABRI.
PERLUNYA MEMAHAMI SEJARAH POLRI
Dengan melihat perkembangan kepolisian di Indonesia yang telah memberikan catatan sejarah untuk pertumbuhan negara Indone¬sia, khususnya penegakan hukum dan pembina kamtibmas, baik keber¬hasilan maupun kekurangannya, maka perlu sejarah kepolisian ini untuk dipelajari bagi anggota Polri, terutama bagi para siswa di lembaga pendidikan Polri di Indonesia. Keberhasilan yang pernah diraih dapat digunakan untuk dicontoh dan dikembangkan lagi guna pelaksanaan tugas yang akan datang. Sedangkan kekurangan atau kegagalannya dapat dipelajari penyebab kekurangan atau kegaga¬lannya, agar tidak akan terulang kembali kegagalan yang serupa.
Disamping itu para pelaku sejarah kepolisian di Indonesia perlu diketahui, siapa yang perlu untuk dijadikan sebagai suri teladannya, yang dapat memberi motivasi kerja bagi yang menela¬dani tokoh Polri pilihannya. Sangat ironis kalau sebagai anggota Polri mengidolakan tokoh sejarah non Polri, karena ketidak kakuannya.
Namun demikian buku sejarah ini masih bersifat pokok-pokokn¬ya saja, dan masih perlu dipelajari lagi buku-buku sejarah ten¬tang peristiwa-peristiwa khusus, tokoh khusus atau otobiografi tokoh kepolisian. Misalnya sejarah tentang: Otobiografi RS. Soe¬kanto, Awaloedin Djamin, Hoegeng Imam Santoso, dan lain sebagainya.
Di Nusantara ini, sudah mulai sejak zaman kerajaan-kerajaan, baik Majapahit, Mataram, maupun kerajaan-kerajaan lain, juga telah melaksanakan fungsi kepolisiannya. Walaupun dengan nama yang beragam. Pada zaman kerajaan Majapahit, fungsi kepolisian telah dilaksanakan oleh satuan yang dinamakan Bhayangkara. Kesat¬uan ini mempunyai tugas : Satya haprabu, Hanyakan musuh, Gi¬neung Pratidina, Tansatrisna. Tugas tersebut kini menjadi Catur Prasetia, yang merupakan landasan kerja anggota Polri di lapan¬gan. Begitu juga pada kerajaan Mataram, fungsi kepolisian dilaksanakan oleh badan yang bernama Kabupaten Gunung Polisi, yang mempunyai tugas menjaga tata tertib dan ketenteraman di daerah-daerah kerajaan dan juga membantu mengurusi soal-soal pemerintahan.
Pada waktu Nusantara di jajah oleh Belanda, fungsi kepoli¬sian juga ada dengan bermacam-macam badan yang melaksanakannya antara lain : Algemene Politie (Polisi Umum), Gewapende Politie (Polisi Bersenjata), Veld Politie (Polisi Lapangan), Cultuur Politie (Polisi Lapangan), Bestuur Politie (Polisi Pamong Praja).
Mengingat mulai pentingnya tugas Polisi maka pemerintah Belanda mulai mengadakan pendidikan Polisi. Pendidikan yang pertama untuk Agen Polisi (Politie Agent) di Batavia, Semarang dan Surabaya pada tahun 1911. Kemudian dengan berkembangnya tugas kepolisian dengan proses pendidikan serta keadaan daerah pendidikan pindah ke Bogor kemudian di Sukabumi (tahun 1925).
Yang menarik untuk dipelajari adalah kepolisian pada zaman penjajahan Jepang. Pemerintahan kolonial Jepang saat itu memben¬tuk kepolisian secara nasional tidak seperti zaman Pemerintahan Hindia Belanda, yang terdiri dari berjenis-jenis kepolisian. Sedangkan organisasi tersusun secara regional dengan masing-masing mempunyai pusat-pusatnya, seperti :
1. Kepolisian untuk Jawa dan Madura berpusat di Jakarta.
2. Kepolisian untuk Sumatera berpusat di Bukittinggi.
3. Kepolisian Timur Besar berpusat di Makasar.
4. Untuk Kepolisian di kalimantan berpusat di Banjarmasin.
Dengan demikian, pada waktu itu telah ada jalur Komando yang jelas dan pusatnya masing-masing sampai ke Distrik. Di samping itu jumlah polisi yang diserah terimakan Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Jepang, sebanyak 31.620 orang yang terdiri dari 10 Hopkommisaris, 117 Komisaris Polisi, 13 Wedana Polisi, 63
Hopinspektur Polisi, 88 Assisten Wedana Polisi, 545 Inspektur Polisi, 1463 Mantri Polisi, 513 Hopagen, 154 Hopposhis komando, 2.582 Poshis komandan/ Reserse dan 26.073 Agen Polisi.
Kemudian setelah kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, pada
sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan hari kedua tanggal 19 Agustus 1945, ditetapkan Kepolisian Negara RI berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, dengan bentuk organisasinya adalah Jawatan kepolisian Negara RI. Setelah terbentuknya Kepolisian RI ini, dengan kegiatan yang menonjol pada waktu itu adalah ikut membela tanah air, atau ikut peran serta dalam melawan penjajahan (Jepang). Dan pada tanggal 1 Juli 1946 setelah Polri di bawah langsung Perdana Menteri, dijadikan hari Bhayangkara (hari ulang tahun Polri). Pada tahun 1945-1950 peran kepolisian dalam mempertahankan negara cukup menonjol, termasuk tanggal 10 November 1945 di Surabaya perlawanan terhadap tentara Sekutu yang dimotori Inggris. Dalam peristiwa tersbeut perlawanan yang mempelopori pasukan istimewa mampu melumpuhkan tentara Sekutu. dari peristiwa tersebut sekarang hari Pahlawan dan A.H. Nasution mengatakan bahwa tanpa adanya keberanian polisi istimewa terse¬but, tidak akan ada hari Pahlawan.
Pada kurun waktu 1950-1959 dimana diperlakukan UUDS tahun 1950 sebagai UU dasar yang bersifat Perlementer, kedudukan Polisi tetap di bawah Perdana Menteri. Pada kurun ini kejadian penting adalah lahirnya Pol Air (5 Desember 1950). Dinas telekomunikasi pada jawatan kepolisian negara (27 Oktober 1951), Pasukan Polisi Perintis (11 Maret 1952), Persatuan Istri Polri yang diberi nama Bhayangkari (19 Oktober 1952), Tri Brata sebagai pengikat disiplin bagi Mahasiswa PTIK (3 Mei 1954) yang selanjutnya sebagai landasan moral anggota Polri. Penetapan hari Kepolisian yang pertama kali (1 Juli 1955), Polisi Lalu Lintas (22 Agustus 1955), Polisi Udara (1Desember 1955), Labkrim (5 Juli 1955), NCB (16 Agustus 1956). Pada kurun inilah banyak tonggak sejarah yang merupakan perkembangan organisasi Polri yang cukup baik, yang kemudian berkembang menjadi kesatuan Polri yang berkembang mengikuti zamannya.
Untuk kurun waktu tahun 1950-1966 telah banyak tonggak sejarah yang sangat mewarnai kondisi Polri dewasa ini, yaitu Polri menjadi anggota ABRI, keluarnya UU Pokok Kepolisian No. 13 tahun 1961, Kepolisian tidak lagi di bawah Pimpinan Negara, tetapi di bawah Men Hankam/Pangab. Pada kurun waktu ini pula telah dibentuk atau diresmikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Kepolisian (Seskoak). Setelah Polri menjadi bagian ABRI, maka pembinaan dan operasionalnya dikendalikan oleh Pangak, dengan demikian perkembangan kepolisian berikutnya banyak dipengaruhi oleh ABRI tersebut. Dari tonggak sejarah ini perkembangan Polri mulai tahun 1966-1998, banyak kritik dilontarkan tentang efekti¬fitas Polri dalam ABRI.
PERLUNYA MEMAHAMI SEJARAH POLRI
Dengan melihat perkembangan kepolisian di Indonesia yang telah memberikan catatan sejarah untuk pertumbuhan negara Indone¬sia, khususnya penegakan hukum dan pembina kamtibmas, baik keber¬hasilan maupun kekurangannya, maka perlu sejarah kepolisian ini untuk dipelajari bagi anggota Polri, terutama bagi para siswa di lembaga pendidikan Polri di Indonesia. Keberhasilan yang pernah diraih dapat digunakan untuk dicontoh dan dikembangkan lagi guna pelaksanaan tugas yang akan datang. Sedangkan kekurangan atau kegagalannya dapat dipelajari penyebab kekurangan atau kegaga¬lannya, agar tidak akan terulang kembali kegagalan yang serupa.
Disamping itu para pelaku sejarah kepolisian di Indonesia perlu diketahui, siapa yang perlu untuk dijadikan sebagai suri teladannya, yang dapat memberi motivasi kerja bagi yang menela¬dani tokoh Polri pilihannya. Sangat ironis kalau sebagai anggota Polri mengidolakan tokoh sejarah non Polri, karena ketidak kakuannya.
Namun demikian buku sejarah ini masih bersifat pokok-pokokn¬ya saja, dan masih perlu dipelajari lagi buku-buku sejarah ten¬tang peristiwa-peristiwa khusus, tokoh khusus atau otobiografi tokoh kepolisian. Misalnya sejarah tentang: Otobiografi RS. Soe¬kanto, Awaloedin Djamin, Hoegeng Imam Santoso, dan lain sebagainya.
Jumat, 20 November 2009
Polri vs KPK
sebenernya udah lama pengen nulis lagi tp beberapa waktu ini susah bener buka blognya. pengen buka di warnet, males rasanya.
sekarang ini lagi rame2nya masalah Polri vs KPK. semua media membahasnya. rakyat pun memberikan opininya ampe turun ke jalan untuk berdemo/berorasi. facebook dan twitter pun gak ketinggalan dijadikan sarana untuk beropini.
ingin juga saya berkomentar tentang masalah ini tp mengingat saya adalah bagian dari permasalahan ini saya memilih untuk diam agar tidak semakin memperkeruh suasana. tidak berusaha seperti Evan Brimob yang tanpa pikir panjang berkomentar di akun facebooknya. saya hanya berusaha berpikir lebih jauh lagi untuk kemajuan diri pribadi dan institusi saya kelak dikemudian hari.
dalam hidup pasti kita akan hadapi kesulitan dan kesulitan itu akan menjadi hikmah yang baik bila mampu dilewati. apa yg terjadi sekarang kelak dikemudian hari akan menjadi pelajaran yang berguna bagi generasi selanjutnya agar tidak terulang kembali.
setiap institusi pasti punya sisi kelemahan dan kekurangan namun saya yakin setiap institusi pasti punya keinginan untuk memperbaikinya. rasanya tidak pas judulnya Polri vs KPK krn dua2nya saling bekerjasama dalam menumpas korupsi di negeri kita tercinta.
sama seperti judul blog ini, saya berusaha menjadi polisi masa depan yg harus lebih baik dari pendahulu2 saya sebelumnya.
sekarang ini lagi rame2nya masalah Polri vs KPK. semua media membahasnya. rakyat pun memberikan opininya ampe turun ke jalan untuk berdemo/berorasi. facebook dan twitter pun gak ketinggalan dijadikan sarana untuk beropini.
ingin juga saya berkomentar tentang masalah ini tp mengingat saya adalah bagian dari permasalahan ini saya memilih untuk diam agar tidak semakin memperkeruh suasana. tidak berusaha seperti Evan Brimob yang tanpa pikir panjang berkomentar di akun facebooknya. saya hanya berusaha berpikir lebih jauh lagi untuk kemajuan diri pribadi dan institusi saya kelak dikemudian hari.
dalam hidup pasti kita akan hadapi kesulitan dan kesulitan itu akan menjadi hikmah yang baik bila mampu dilewati. apa yg terjadi sekarang kelak dikemudian hari akan menjadi pelajaran yang berguna bagi generasi selanjutnya agar tidak terulang kembali.
setiap institusi pasti punya sisi kelemahan dan kekurangan namun saya yakin setiap institusi pasti punya keinginan untuk memperbaikinya. rasanya tidak pas judulnya Polri vs KPK krn dua2nya saling bekerjasama dalam menumpas korupsi di negeri kita tercinta.
sama seperti judul blog ini, saya berusaha menjadi polisi masa depan yg harus lebih baik dari pendahulu2 saya sebelumnya.
Rabu, 21 Oktober 2009
Intelijen gagap (repost)
Orang Indonesia sering masih tergagap mendengar kata "intelijen". Entah krn itu memang berasal dr kata serapan, atau krn ada latar belakang historis-kultural ttg makna kata2 itu. Intelijen memang jadi laga utama dalam perang dingin, dmn saat itu intelijen jg mengalami stigmatisasi internal di dalam perjalanan sejarah bangsa kita.
Padahal, intelijen memang harfiahnya adalah kodrat manusia. "Cogito ergo sum". Pemikiranku yang membuat eksistensiku diakui. Meski tak sepenuhnya tepat, hal ini bisa diterima dalam kasus orang yang gila dan anak2 kecil/balita. Mereka dianggap tidak lebih dr sekedar obyek penderita krn tak memiliki "cogito". Intelijen dan intelijensia bahkan mjd unsur utama berpikir, dan berpikir adalah yang mengangkat derajat manusia dr makhluk lainnya. Berpikir, menimbang, menerima informasi dan mempengaruhi orang lain dengan informasi itu, sejatinya telah berkembang dengan pesatnya.
Publik Indonesia masih kerap mengidentifikasi intelijen sebagai "alat" perang. Militeristik, tertutup, dan ekstra kolot. Padahal, zaman telah mengalami revolusi informasi, dimana open source sudah merajalela. Militer dan kelompok strategis masih menjaga feodalisme kekolotannya, padahal pada saat yang sama hampir seluruh masyarakat melakukan pekerjaan itu. Entah itu meneliti, mengamati, melakukan survei pasar, melakukan unras, mendidik siswa, menggosipkan sesuatu, dan banyak lagi kegiatan lain adalah bagian2 dr apa yg bs diberi label : pekerjaan intelijen.
Lalu apa yang membedakan intelijen "induk" yg militeristik dengan anaknya yang "open sourced"? Apa bedanya intelijen yg organized dan sporadic? Yang kovensional dan kontemporer. Yang membedakan adalah manajemen.
Kalangan akademis justru sudah lebih dahulu maju dengan memahami manajemen sistem informatika. Didalamnya, sangat kental dengan nuansa penyelidikan intelijen konvensional, bahkan lebih jauh dan lebih detail. Sampai menyentuh estimasi strategis yang merupakan inti organisasi intelijen.
Dalam hal pengamanan dan kontra intelijen, intelijen konvensional juga tergagap melawan kemajuan ilmu-ilmu sosial spt psikologi, antropologi, sosiologi, yang terus mengembangkan sayapnya menjadi kriminologi, manajemen bencana, dsb. Satu2nya kemajuan intelijen adalah perangkat khusus yang terkesan canggih padahal itu hasil rekayasa teknologi yang sudah berumur 5 tahunan. Di zaman perang dingin, 5 tahun adalah masa yang sebentar bagi kemajuan teknologi, tapi utk zaman ini, 5 tahun bisa menghasilkan puluhan jenjang teknologi. Bisa jadi Radio anda yang berumur 5 tahun, mgkn hrs masuk keranjang sampah jika rusak krn komponennya sudah tak diproduksi lagi.
Jadi kelebihan apa yang dimiliki insan intelijen konvensional-militeristik? Ya itu tadi, sikap OSS (oh so secret) dan pongah ditengah kepungan gajah; tetap optimis dengan apa yang ia hadapi padahal setiap saat ia bisa mati tergencet.
Weits, tunggu dulu. Ada titik cerah bagi mereka yang beragama. Masa depan tak bisa dideteksi spt jadwal kereta api, tak bisa ditolak seperti kuman. Tapi masa depan itu bisa dirangkai melalui tanda-tanda. Siapa yang bisa merangkai tanda-tanda itu, yang membaca tanda itu, lalu memahaminya, dialah yang mampu menguasai masa depan. Disanalah hati berperan: untuk apa dan mau apa, niat dari diri kita akan mempengaruhinya. Ketamakan, keserakahan, dan arogansi akan mengalahkan kecermatan dan keuletan; dan kita akan terjerumus dalam sebuah kehancuran. Sebaliknya semangat kebenaran, prioritas kepada keadilan, akan menuntun kita kepada keberhasilan. Dan semangat kebenaran serta keadilan ada pada agama.
Ayolah, bukan saatnya lagi mencetak uang sendiri. Bukan saatnya lagi membuang energi untuk suatu yang tak perlu. Insan intelijen adalah orang2 yang terbiasa membersihkan hati dari kepentingan, dan merangkai tanda-tanda dalam otaknya. Bukan moneymaker, bukan troubleshooter, bukan juga cape crusader. Siapapun bisa dilatih jadi jago tembak, ribuan orang rela berjibaku melakukan aksi penyelamatan spektakuler, gampang menjadi topeng yang gagah berani dan peran pahlawan yang bisa diandalkan. Tapi topeng itu takkan cukup kuat untuk mengingkari wajah lain yang berada dibaliknya, yang hanya diwakili sepasang mata yang menatap orang2 yang tak bisa melihat wajah dibalik topeng itu. Ia bisa segalanya karena ia adalah Descartes : "cogito ergo sum". "Aku berpikir, karenanya aku ada". Bukannya karena aku terlihat.
Padahal, intelijen memang harfiahnya adalah kodrat manusia. "Cogito ergo sum". Pemikiranku yang membuat eksistensiku diakui. Meski tak sepenuhnya tepat, hal ini bisa diterima dalam kasus orang yang gila dan anak2 kecil/balita. Mereka dianggap tidak lebih dr sekedar obyek penderita krn tak memiliki "cogito". Intelijen dan intelijensia bahkan mjd unsur utama berpikir, dan berpikir adalah yang mengangkat derajat manusia dr makhluk lainnya. Berpikir, menimbang, menerima informasi dan mempengaruhi orang lain dengan informasi itu, sejatinya telah berkembang dengan pesatnya.
Publik Indonesia masih kerap mengidentifikasi intelijen sebagai "alat" perang. Militeristik, tertutup, dan ekstra kolot. Padahal, zaman telah mengalami revolusi informasi, dimana open source sudah merajalela. Militer dan kelompok strategis masih menjaga feodalisme kekolotannya, padahal pada saat yang sama hampir seluruh masyarakat melakukan pekerjaan itu. Entah itu meneliti, mengamati, melakukan survei pasar, melakukan unras, mendidik siswa, menggosipkan sesuatu, dan banyak lagi kegiatan lain adalah bagian2 dr apa yg bs diberi label : pekerjaan intelijen.
Lalu apa yang membedakan intelijen "induk" yg militeristik dengan anaknya yang "open sourced"? Apa bedanya intelijen yg organized dan sporadic? Yang kovensional dan kontemporer. Yang membedakan adalah manajemen.
Kalangan akademis justru sudah lebih dahulu maju dengan memahami manajemen sistem informatika. Didalamnya, sangat kental dengan nuansa penyelidikan intelijen konvensional, bahkan lebih jauh dan lebih detail. Sampai menyentuh estimasi strategis yang merupakan inti organisasi intelijen.
Dalam hal pengamanan dan kontra intelijen, intelijen konvensional juga tergagap melawan kemajuan ilmu-ilmu sosial spt psikologi, antropologi, sosiologi, yang terus mengembangkan sayapnya menjadi kriminologi, manajemen bencana, dsb. Satu2nya kemajuan intelijen adalah perangkat khusus yang terkesan canggih padahal itu hasil rekayasa teknologi yang sudah berumur 5 tahunan. Di zaman perang dingin, 5 tahun adalah masa yang sebentar bagi kemajuan teknologi, tapi utk zaman ini, 5 tahun bisa menghasilkan puluhan jenjang teknologi. Bisa jadi Radio anda yang berumur 5 tahun, mgkn hrs masuk keranjang sampah jika rusak krn komponennya sudah tak diproduksi lagi.
Jadi kelebihan apa yang dimiliki insan intelijen konvensional-militeristik? Ya itu tadi, sikap OSS (oh so secret) dan pongah ditengah kepungan gajah; tetap optimis dengan apa yang ia hadapi padahal setiap saat ia bisa mati tergencet.
Weits, tunggu dulu. Ada titik cerah bagi mereka yang beragama. Masa depan tak bisa dideteksi spt jadwal kereta api, tak bisa ditolak seperti kuman. Tapi masa depan itu bisa dirangkai melalui tanda-tanda. Siapa yang bisa merangkai tanda-tanda itu, yang membaca tanda itu, lalu memahaminya, dialah yang mampu menguasai masa depan. Disanalah hati berperan: untuk apa dan mau apa, niat dari diri kita akan mempengaruhinya. Ketamakan, keserakahan, dan arogansi akan mengalahkan kecermatan dan keuletan; dan kita akan terjerumus dalam sebuah kehancuran. Sebaliknya semangat kebenaran, prioritas kepada keadilan, akan menuntun kita kepada keberhasilan. Dan semangat kebenaran serta keadilan ada pada agama.
Ayolah, bukan saatnya lagi mencetak uang sendiri. Bukan saatnya lagi membuang energi untuk suatu yang tak perlu. Insan intelijen adalah orang2 yang terbiasa membersihkan hati dari kepentingan, dan merangkai tanda-tanda dalam otaknya. Bukan moneymaker, bukan troubleshooter, bukan juga cape crusader. Siapapun bisa dilatih jadi jago tembak, ribuan orang rela berjibaku melakukan aksi penyelamatan spektakuler, gampang menjadi topeng yang gagah berani dan peran pahlawan yang bisa diandalkan. Tapi topeng itu takkan cukup kuat untuk mengingkari wajah lain yang berada dibaliknya, yang hanya diwakili sepasang mata yang menatap orang2 yang tak bisa melihat wajah dibalik topeng itu. Ia bisa segalanya karena ia adalah Descartes : "cogito ergo sum". "Aku berpikir, karenanya aku ada". Bukannya karena aku terlihat.
Senin, 28 September 2009
Oknum Polisi di Sumsel
udah denger berita kejadian di SUMSEL blum? miris dengernya. oknum polisi, lulusan Akpol lagi, tega membunuh orang gara2 barang haram yg namanya narkoba.
klo bicara tentang harapan masyarakat yang begitu tinggi terhadap polisi, baik itu kinerjanya maupun tingkah lakunya, rasanya kejadian seperti ini sudah pasti menjatuhkan kewibawaan Polri secara keseluruhan. baru saja kita sukses menggulung Noordin M Top, nama kita udah tercoreng oleh ulah satu orang oknum perwira.
dalam kenyataannya, polisi memang tetap manusia biasa yang punya sisi rapuh yang bisa direcoki hal-hal negatif. klo gak ditunjang keimanan yang kuat, sudah pasti sisi yang rapuh itu mudah diobrak-abrik. sehingga muncul oknum-oknum polisi yang tidak mampu menjaga amanah tugasnya.
bagi saya ini menjadi pembelajaran penting. jangan berani-berani menyentuh yang namanya narkoba walaupun itu hanya sekedar coba-coba. bila sudah terkuasai, sulit bagi kita untuk keluar dari jeratnya. pikiran kita jadi gak waras. apapun dilakukan, gak liat lagi siapa dirinya dan apa jabatannya.
SO, JAUH-JAUH YA DARI NARKOBA!!
klo bicara tentang harapan masyarakat yang begitu tinggi terhadap polisi, baik itu kinerjanya maupun tingkah lakunya, rasanya kejadian seperti ini sudah pasti menjatuhkan kewibawaan Polri secara keseluruhan. baru saja kita sukses menggulung Noordin M Top, nama kita udah tercoreng oleh ulah satu orang oknum perwira.
dalam kenyataannya, polisi memang tetap manusia biasa yang punya sisi rapuh yang bisa direcoki hal-hal negatif. klo gak ditunjang keimanan yang kuat, sudah pasti sisi yang rapuh itu mudah diobrak-abrik. sehingga muncul oknum-oknum polisi yang tidak mampu menjaga amanah tugasnya.
bagi saya ini menjadi pembelajaran penting. jangan berani-berani menyentuh yang namanya narkoba walaupun itu hanya sekedar coba-coba. bila sudah terkuasai, sulit bagi kita untuk keluar dari jeratnya. pikiran kita jadi gak waras. apapun dilakukan, gak liat lagi siapa dirinya dan apa jabatannya.
SO, JAUH-JAUH YA DARI NARKOBA!!
Jumat, 25 September 2009
Giat Pelatihan di ILEA Bangkok
Selasa, 08 September 2009
WANITA (repost)
Kepada Wanita Cantik ......
Seorang anak laki-laki kecil bertanya
kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"
"Karena aku seorang wanita", kata
sang ibu kepadanya.
"Aku
tidak mengerti", kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata,
"Dan kau tak akan pernah mengerti"
Kemudian anak laki-laki itu bertanya
kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa
alasan?"
"Semua
wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh
ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu
tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita
menangis.
Akhirnya
ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah
menangis?"
Tuhan berkata:
"Ketika Aku
menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang
istimewa.. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun,
harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku
memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima
penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "
"Aku
memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain
menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa
mengeluh "
"Aku
memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,
bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "
"Aku
memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan
melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya
"
"Aku
memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik
takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan
ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu
"
"Dan
akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah
khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."
"Kau tahu:
Kecantikan
seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia
tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan
seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya -
tempat dimana cinta itu ada."
Seorang anak laki-laki kecil bertanya
kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"
"Karena aku seorang wanita", kata
sang ibu kepadanya.
"Aku
tidak mengerti", kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata,
"Dan kau tak akan pernah mengerti"
Kemudian anak laki-laki itu bertanya
kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa
alasan?"
"Semua
wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh
ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu
tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita
menangis.
Akhirnya
ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah
menangis?"
Tuhan berkata:
"Ketika Aku
menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang
istimewa.. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun,
harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku
memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima
penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "
"Aku
memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain
menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa
mengeluh "
"Aku
memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,
bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "
"Aku
memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan
melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya
"
"Aku
memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik
takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan
ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu
"
"Dan
akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah
khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."
"Kau tahu:
Kecantikan
seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia
tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan
seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya -
tempat dimana cinta itu ada."
Langganan:
Postingan (Atom)
