Rabu, 28 Juli 2010

Video Polisi Tabrak Mahasiswa

Adegan video berdurasi 15 detik yang meramaikan Twitter dan aneka situs jejaring lain itu cukup heboh. Terlihat sebuah mobil patroli polisi dengan nomor lambung 3024 melarikan diri usai menyeruduk seorang mahasiswa pria yang mengenakan jaket almamater warna biru sampai terpental.

Diduga adegan itu berlangsung dalam unjuk rasa menolak kenaikan BBM yang berlangsung di depan Kampus UNIKA Atma Jaya, Jl Sudirman, Jakarta. Aksi pada 24 Juni 2008 silam itu berlangsung anarkis dan sebuah mobil dinas sebuah instansi pemerintah dibakar oleh massa pengunjuk rasa.

Belakangan diketahui korban bernama Arpianto (22), mahasiswa IAIN asal Jambi. Arpianto lalu dilarikan ke RS Jakarta kemudian dirujuk ke RS UKI Cawang untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut hingga kondisinya membaik.
Untuk lebih lanjut bisa buka di http://m.detik.com/read/2010/07/27/125709/1407645/10/polisi-cari-pengunggah-video-mobil-patroli-seruduk-mahasiswa

Pertanyaannya adalah siapa yg mengedit dan mengunduh video ini serta apa motifnya? Saya yakin polisi bisa mengungkapnya agar bisa diketahui apa yg menjadi motifnya.

Senin, 12 Juli 2010

Akan dijadikan apa Polri ini?

Disaat Polri dituntut untuk lebih "SIPIL" setelah keluar dari ABRI disertai tuntutan perubahan kehidupan masyarakat dan terakhir muncul wacana Kapolri bisa dari luar Polri sendiri. Sedangkan instansi lain malah menambah senjata sebagai barang inventarisnya dan makin banyak instansi yg ingin punya kewenangan sendiri. Semakin membuat aturan di negara ini tumpang tindih.

Minggu, 04 Juli 2010

HATI INI

Diambil dr lirik lagu Kahitna :

"Aku memang manusia biasa, tidak sempurna dan kadang salah, namun di hatiku hanya satu, cinta untukmu luar biasa..."

Lirik lagu ini menggambarkan betapa kami, khususnya saya, sering menerima hujatan dan caci maki, tdk menyurutkan tekad kami untuk memberikan yg terbaik bagi masyarakat dlm berikan pelayanan, pengayoman dan perlindungan atas dasar kecintaan kami kpd bangsa dan negara ini.

Sabtu, 20 Maret 2010

Polisi Jujur

Copas dari milis TB Community:


Masih ingatkah pada Jenderal Pol (Purn) Drs. Hoegeng Iman Santosa (Alm)?

Beliau merupakan mantan Kapolri yang mendedikasikan dirinya demi sebuah arti kejujuran namun disingkirkan karena kejujuran.

Kisah klasik dari bangsa sebesar Indonesia. Kisah dimana setiap tokoh baik tidak akan menang melawan tokoh jahat dalam sebuah pentas. Menggelikan bukan. Tapi itulah realita yang terjadi dalam Negara ini, Hoegeng Iman Santosa adalah salah satu contoh Tokoh baik yang “mati” dalam cengkraman penguasa jahat yang tak menginginkan kekuasaannya terganggu oleh sifat jujur dari sang Kapolri.

Hoegeng yang lahir sebagai sulung dari pasangan Soekaryo Karyohatmodjo dan Oemi Kalsum di kota Pekalongan pada 14 Oktober 1921, sangat terkenal sebagai tokoh yang meneladani arti kejujuran. Sikap yang pada masa sekarang ini sangat sulit untuk ditemukan dalam system pemerintahan kita. Hoegeng lahir dalam latar belakang keluarga yang menekankan kedisiplinan dan ketaatan dalam beribadah.

Beliau kemudian tumbuh menjadi pribadi yang taat beribadah, disiplin, tegas dan menjunjung tinggi kejujuran.

Pada tahun 1968, Hoegeng dipercaya menjadi Kepala Kepolisian RI (1968-1971). Sebagai seorang Kapolri, Hoegeng semakin menunjukkan keteguhan prinsip hidupnya dengan tidak bisa ”dibeli” oleh siapapun.

Beliau bahkan melarang anggota keluarganya untuk menggunakan fasilitas Negara atau menerima hadiah dari orang lain dengan alasan apapun. Tak segan-segan Ia akan menyuruh hadiah tersebut untuk dikirimkan kembali kepada pengirimnya.

Salah satu kisah dari Hoegeng yang selalu menjadi inspirasi bagi saya adalah kisah ketika Hoegeng sedang naik Mobil Polri 1 dan jalanan sedang macet. Dengan tidak memperdulikan statusnya sebagai seorang Kapolri, Hoegeng langsung turun dari mobilnya dan bergegas berjalan ke perempatan untuk membantu petugas polantas yang sedang berusaha melancarkan kembali jalanan yang macet.

Beliau tidak hanya bersemboyan dan memberikan perintah namun juga senantiasa menjadi motivasi dan contoh langsung bagaimana menjadi polisi yang sebenarnya, yang setia pada dharma-nya membantu dan melayani masyarakat. Masih ada pejabat yang mau berbuat seperti itu?

Aneh Tapi Nyata, Happy Ending dari sebuah sikap mulia ternyata tak selamanya terjadi dalam kehidupan manusia. Justru karena sikapnya yang selalu menjunjung tinggi kejujuran, Hoegeng kemudian dilengserkan dari jabatan Kapolri.

Pada usia yang relative muda, 49 tahun, Hoegeng dipensiunkan sebelum waktunya. Ternyata banyak orang yang tidak senang dengan sikap “mulia” seorang Hoegeng.

Beliau bahkan pernah dituduh berkolusi dan nepotisme karena menggagas penggunaan Helm bagi pengendara sepeda motor. Gagasan yang kemudian terpakai hingga saat ini, namun orang-orang menganggapnya punya bisnis Helm pada saat itu.

Lepas dari jabatan Kapolri, secara otomatis Hoegeng kembali pada kehidupan sederhana. Beliau hanya memiliki rumah dinas, jasa dan prinsip kejujuran, tanpa harta yang cukup seperti layaknya seorang mantan Kapolri.

Bukan hanya itu saja, kisah sedih Hoegeng terus berlanjut dengan keluarnya larangan bagi Hoegeng untuk menghadiri setiap acara yang dihadiri oleh Presiden Soeharto, baik itu peringatan hari kepolisian, dan lain sebagainya.

Hoegeng merasa sangat terpukul dengan kenyataan tersebut sehingga mungkin menjadi salah satu penyebab beliau kemudian terkena stroke dan menghadap Yang Kuasa pada tanggal 14 Juli 2004.

Hoegeng, sebuah permata indah yang berusaha bersinar dalam kegelapan. Namun tak kuasa melawan hingga akhirnya harus redup dan meninggalkan kegelapan merajalela di bumi Indonesia. Kisah hidup Hoegeng adalah contoh bahwa masih ada kejujuran dalam hati setiap bangsa Indonesia. Jangan takut untuk menjadi pribadi yang jujur, meskipun kita harus terbuang dan tersingkir.

Biarlah satu Hoegeng dapat membangkitkan jutaan Hoegeng lagi, demi bangsa yang menjunjung tinggi kejujuran.

Selasa, 16 Februari 2010

Tri Brata Community

Milis TRIBRATA COMMUNITY (TB COM) 'dibuat' karena adanya kecintaan terhadap Polri.
Pada dasarnya milis ini bersifat terbuka bagi seluruh insan Polri dan Masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap kemajuan dan perbaikan Polri di masa 'men'datang.

Milis 'mengenai' Polri 'sebenarnya' sudah banyak, 'seperti' :
polisi-masyarakat@yahoogroups.com polisi-masyarakat@yahoogroups.com> ,
police_thumbers@yahoogroups.com police_thumbers@yahoogroups.com> , dan lain-lain. 'Namun milis tersebut lebih banyak' bersifat chit chat dan out of topic.
'Untuk itu kami' mencoba mengkonsep'kan' sebuah milis yang lebih tegas 'untuk' aturannya, demi kebaikan 'P'olri itu sendiri.

Dalam milis ini diusahakan untuk menghilangkan rasa segan 'dan' sungkan dari masyarakat terhadap insan Polri juga Pejabat Polri, yang mana dari 'hasil' berbagai survey ternyata perasaan segan dan sungkan ini yang menjadi 'penghambat' informasi dari masyarakat terhadap Polri, 's'ehingga perubahan/reformasi 'untuk' Polri masih seperti jalan ditempat.
Hal ini 'di'karena'kan' informasi-informasi dan inovasi-inovasi yang sudah dikembangkan oleh Polri masih mengacu pada teori-teori tanpa melibatkan masyarakat pada umumnya, sementara yang menilai Polri adalah masyarakat umum.
'Dan' karena tidak mengadopsi usulan-usulan ataupun keperluan masyarakat, maka 'perlu' dirasakan 'adanya' perubahan-perubahan tersebut walaupun sudah banyak yang berubah di tubuh Polri, 'namun ternyata' masih belum sanggup mengadopsi keinginan masyarakat banyak.

Berpijak pada 'hal tersebut dimana' saat saya mengikuti milis ISAT BB, para pelanggan Indosat bisa langsung berkomunikasi dengan para petinggi Isat, 'dan' ternyata hal ini banyak mempengaruhi bagi kemajuan Isat terhadap pelayanan 'mereka' kepada para konsumennya.
Dengan adanya keluhan maupun kritikan dari para member milis isatbb sebagai konsumen ISAT serta brainstorming yang sering muncul dalam postingan member, serta ide-ide gila yang muncul secara spontan dan di respon oleh para petinggi Isat, ternyata sangat berpengaruh terhadap arah kebijakan dan program-program isat bagi pelanggannya.

Adanya ketanggap segeraan dari para petinggi isat terhadap keluhan pelayanan bagi membernya dengan disertai tindakan nyata di lapangan, mampu menimbulkan rasa kecintaan dan fanatisme tersendiri bagi pelanggan isat.

Melihat kenyataan tersebut, 'kami' mempunyai harapan, apabila hal ini bisa diterapkan di tubuh Polri, niscaya akan sangat membantu bagi pimpinan Polri dalam pengambilan kebijakan dan membuat sebuah inovasi yang muncul dari para member komunitas TB COM, yang 'nantinya' akan bisa membuat Polri makin dicintai dan disayangi 'oleh' masya'ra'kat.
Hal ini sejalan dengan tugas pokok Polri sebagai Pelayan, Pelindung, dan Pengayom masyarakat.(RS)

Jumat, 08 Januari 2010

Surat Kapolri No Pol : B/3022/XII/2009/SDEOPS, tanggal 14 Desember 2009 tentang Penanganan Kasus Melalui Alternatif Dispute Resolusion (ADR)

Sehubungan dengan rujukan tersebut di atas, dengan hormat dijelaskan kembali bahwa salah satu bentuk penyelesaian masalah dalam penerapan Polmas adalah penerapan konsep Alternatif Dispute Resolution (ADR), yakni pola penyelesaian masalah sosial melalui jalur alternatif selain proses hukum atau non litigasi antara lain melalui upaya perdamaian.

Akhir-akhir ini banyak proses penegakkan hukum terhadap kasus tindak pidana dengan kerugian sangat kecil menjadi sorotan media massa dan masyarakat, terkesan aparat CJS terlalu kaku dalam penegakan hukum, berkaitan dengan hal tersebut di atas, agar di ambil langkah-langkah sbb :

1. Mengupayakan penanganan kasus pidana yang mempunyai kerugian materi kecil, penyelesaiannya dapat diarahkan melalui konsep ADR

2. Penyelesaian kasus pidana dengan menggunakan ADR harus disepakati oleh pihak-pihak yg berperkara namun apabila tidak terdapat kesepakatan baru diselesaikan sesuai dengan prosedur hukum yg berlaku secara profesional dan proporsional.

3. Penyelesaian kasus pidana yg menggunakan ADR harus berprinsip pada musyawarah mufakat dan harus diketahui oleh masyarakat sekitar dengan menyertakan RT RW setempat

4. Penyelesaian kasus pidana dengan menggunakan ADR harus menghormati norma hukum sosial / adat serta memenuhi azas keadilan

5. Memberdayakan anggota Polmas dan memerankan FKPM yang ada di wilayah masing2 utk mampu mengidentifikasi kasus-kasus pidana yang mempunyai kerugian materiil kecil dan memungkinkan untuk diselesaikan melalui konsep ADR.

6. Untuk kasus yang telah dapat diselesaikan melalui konsep ADR agar tidak lagi di sentuh oleh tindakan hukum lain yang kontra produktif dengan tujuan Polmas.

Demikian untuk menjadi maklum.

Selasa, 29 Desember 2009

Sekolah Inspektur Polisi

menjawab pertanyaan sdr. cristian soal apa itu Sekolah Inspektur Polisi, saya berusaha menjawab sesuai pengetahuan saya yang terbatas ini berhubung tugas saya di Akpol hanyalah sebagai Pembina/Pengasuh Taruna.

sepengetahuan saya, SIP adalah wadah bagi para lulusan Sarjana yang berminat untuk melanjutkan studinya di Kepolisian. sebenernya ini nama lain dari PPSS (Perwira Polri Sumber Sarjana) yang slama ini berjalan. perbedaannya adalah semenjak Polri mengambil kebijakan untuk penerimaan Taruna Akpol diambil dari 2 sumber (SMU dan Sarjana), PPSS mengambil siswanya dari sumber Sarjana khusus (kedokteran,penerbang). sedangkan SIP mengambil siswa dari sumber sarjana pada umumnya (SH,SSos dll).
bila PPSS penyebutannya adalah Siswa, sedangkan SIP adalah Taruna. akan tetapi masa pendidikannya lebih cepat dari Taruna sumber SMU ( kalo tidak salah 1 tahun 4 bln).
namun sepertinya program SIP ini tidak akan berlanjut, seiring munculnya kebijakan Kapolri agar Akpol setara dgn S1. dgn kata lain murni hanya menerima dari sumber SMU dengan masa pendidikan selama 4 tahun.

mudah-mudahan ini bisa menjawab. mohon maaf bila ada kekurangan informasi yang saya sampaikan di atas.

Sejarah Kepolisian

Suatu negara tanpa adanya aparat yang melaksanakan fungsi kepolisian, niscaya negara tersebut tidak akan mampu bertahan lama, karena pelanggaran hukum akan leluasa dan akhirnya negara tersebut runtuh. Oleh karenanya fungsi kepolisian pasti ada di setiap negara, termasuk negara Republik Indonesia.
Di Nusantara ini, sudah mulai sejak zaman kerajaan-kerajaan, baik Majapahit, Mataram, maupun kerajaan-kerajaan lain, juga telah melaksanakan fungsi kepolisiannya. Walaupun dengan nama yang beragam. Pada zaman kerajaan Majapahit, fungsi kepolisian telah dilaksanakan oleh satuan yang dinamakan Bhayangkara. Kesat¬uan ini mempunyai tugas : Satya haprabu, Hanyakan musuh, Gi¬neung Pratidina, Tansatrisna. Tugas tersebut kini menjadi Catur Prasetia, yang merupakan landasan kerja anggota Polri di lapan¬gan. Begitu juga pada kerajaan Mataram, fungsi kepolisian dilaksanakan oleh badan yang bernama Kabupaten Gunung Polisi, yang mempunyai tugas menjaga tata tertib dan ketenteraman di daerah-daerah kerajaan dan juga membantu mengurusi soal-soal pemerintahan.
Pada waktu Nusantara di jajah oleh Belanda, fungsi kepoli¬sian juga ada dengan bermacam-macam badan yang melaksanakannya antara lain : Algemene Politie (Polisi Umum), Gewapende Politie (Polisi Bersenjata), Veld Politie (Polisi Lapangan), Cultuur Politie (Polisi Lapangan), Bestuur Politie (Polisi Pamong Praja).
Mengingat mulai pentingnya tugas Polisi maka pemerintah Belanda mulai mengadakan pendidikan Polisi. Pendidikan yang pertama untuk Agen Polisi (Politie Agent) di Batavia, Semarang dan Surabaya pada tahun 1911. Kemudian dengan berkembangnya tugas kepolisian dengan proses pendidikan serta keadaan daerah pendidikan pindah ke Bogor kemudian di Sukabumi (tahun 1925).
Yang menarik untuk dipelajari adalah kepolisian pada zaman penjajahan Jepang. Pemerintahan kolonial Jepang saat itu memben¬tuk kepolisian secara nasional tidak seperti zaman Pemerintahan Hindia Belanda, yang terdiri dari berjenis-jenis kepolisian. Sedangkan organisasi tersusun secara regional dengan masing-masing mempunyai pusat-pusatnya, seperti :
1. Kepolisian untuk Jawa dan Madura berpusat di Jakarta.
2. Kepolisian untuk Sumatera berpusat di Bukittinggi.
3. Kepolisian Timur Besar berpusat di Makasar.
4. Untuk Kepolisian di kalimantan berpusat di Banjarmasin.
Dengan demikian, pada waktu itu telah ada jalur Komando yang jelas dan pusatnya masing-masing sampai ke Distrik. Di samping itu jumlah polisi yang diserah terimakan Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Jepang, sebanyak 31.620 orang yang terdiri dari 10 Hopkommisaris, 117 Komisaris Polisi, 13 Wedana Polisi, 63
Hopinspektur Polisi, 88 Assisten Wedana Polisi, 545 Inspektur Polisi, 1463 Mantri Polisi, 513 Hopagen, 154 Hopposhis komando, 2.582 Poshis komandan/ Reserse dan 26.073 Agen Polisi.
Kemudian setelah kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, pada
sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan hari kedua tanggal 19 Agustus 1945, ditetapkan Kepolisian Negara RI berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, dengan bentuk organisasinya adalah Jawatan kepolisian Negara RI. Setelah terbentuknya Kepolisian RI ini, dengan kegiatan yang menonjol pada waktu itu adalah ikut membela tanah air, atau ikut peran serta dalam melawan penjajahan (Jepang). Dan pada tanggal 1 Juli 1946 setelah Polri di bawah langsung Perdana Menteri, dijadikan hari Bhayangkara (hari ulang tahun Polri). Pada tahun 1945-1950 peran kepolisian dalam mempertahankan negara cukup menonjol, termasuk tanggal 10 November 1945 di Surabaya perlawanan terhadap tentara Sekutu yang dimotori Inggris. Dalam peristiwa tersbeut perlawanan yang mempelopori pasukan istimewa mampu melumpuhkan tentara Sekutu. dari peristiwa tersebut sekarang hari Pahlawan dan A.H. Nasution mengatakan bahwa tanpa adanya keberanian polisi istimewa terse¬but, tidak akan ada hari Pahlawan.
Pada kurun waktu 1950-1959 dimana diperlakukan UUDS tahun 1950 sebagai UU dasar yang bersifat Perlementer, kedudukan Polisi tetap di bawah Perdana Menteri. Pada kurun ini kejadian penting adalah lahirnya Pol Air (5 Desember 1950). Dinas telekomunikasi pada jawatan kepolisian negara (27 Oktober 1951), Pasukan Polisi Perintis (11 Maret 1952), Persatuan Istri Polri yang diberi nama Bhayangkari (19 Oktober 1952), Tri Brata sebagai pengikat disiplin bagi Mahasiswa PTIK (3 Mei 1954) yang selanjutnya sebagai landasan moral anggota Polri. Penetapan hari Kepolisian yang pertama kali (1 Juli 1955), Polisi Lalu Lintas (22 Agustus 1955), Polisi Udara (1Desember 1955), Labkrim (5 Juli 1955), NCB (16 Agustus 1956). Pada kurun inilah banyak tonggak sejarah yang merupakan perkembangan organisasi Polri yang cukup baik, yang kemudian berkembang menjadi kesatuan Polri yang berkembang mengikuti zamannya.
Untuk kurun waktu tahun 1950-1966 telah banyak tonggak sejarah yang sangat mewarnai kondisi Polri dewasa ini, yaitu Polri menjadi anggota ABRI, keluarnya UU Pokok Kepolisian No. 13 tahun 1961, Kepolisian tidak lagi di bawah Pimpinan Negara, tetapi di bawah Men Hankam/Pangab. Pada kurun waktu ini pula telah dibentuk atau diresmikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Kepolisian (Seskoak). Setelah Polri menjadi bagian ABRI, maka pembinaan dan operasionalnya dikendalikan oleh Pangak, dengan demikian perkembangan kepolisian berikutnya banyak dipengaruhi oleh ABRI tersebut. Dari tonggak sejarah ini perkembangan Polri mulai tahun 1966-1998, banyak kritik dilontarkan tentang efekti¬fitas Polri dalam ABRI.
PERLUNYA MEMAHAMI SEJARAH POLRI
Dengan melihat perkembangan kepolisian di Indonesia yang telah memberikan catatan sejarah untuk pertumbuhan negara Indone¬sia, khususnya penegakan hukum dan pembina kamtibmas, baik keber¬hasilan maupun kekurangannya, maka perlu sejarah kepolisian ini untuk dipelajari bagi anggota Polri, terutama bagi para siswa di lembaga pendidikan Polri di Indonesia. Keberhasilan yang pernah diraih dapat digunakan untuk dicontoh dan dikembangkan lagi guna pelaksanaan tugas yang akan datang. Sedangkan kekurangan atau kegagalannya dapat dipelajari penyebab kekurangan atau kegaga¬lannya, agar tidak akan terulang kembali kegagalan yang serupa.
Disamping itu para pelaku sejarah kepolisian di Indonesia perlu diketahui, siapa yang perlu untuk dijadikan sebagai suri teladannya, yang dapat memberi motivasi kerja bagi yang menela¬dani tokoh Polri pilihannya. Sangat ironis kalau sebagai anggota Polri mengidolakan tokoh sejarah non Polri, karena ketidak kakuannya.
Namun demikian buku sejarah ini masih bersifat pokok-pokokn¬ya saja, dan masih perlu dipelajari lagi buku-buku sejarah ten¬tang peristiwa-peristiwa khusus, tokoh khusus atau otobiografi tokoh kepolisian. Misalnya sejarah tentang: Otobiografi RS. Soe¬kanto, Awaloedin Djamin, Hoegeng Imam Santoso, dan lain sebagainya.

Jumat, 20 November 2009

Polri vs KPK

sebenernya udah lama pengen nulis lagi tp beberapa waktu ini susah bener buka blognya. pengen buka di warnet, males rasanya.

sekarang ini lagi rame2nya masalah Polri vs KPK. semua media membahasnya. rakyat pun memberikan opininya ampe turun ke jalan untuk berdemo/berorasi. facebook dan twitter pun gak ketinggalan dijadikan sarana untuk beropini.

ingin juga saya berkomentar tentang masalah ini tp mengingat saya adalah bagian dari permasalahan ini saya memilih untuk diam agar tidak semakin memperkeruh suasana. tidak berusaha seperti Evan Brimob yang tanpa pikir panjang berkomentar di akun facebooknya. saya hanya berusaha berpikir lebih jauh lagi untuk kemajuan diri pribadi dan institusi saya kelak dikemudian hari.

dalam hidup pasti kita akan hadapi kesulitan dan kesulitan itu akan menjadi hikmah yang baik bila mampu dilewati. apa yg terjadi sekarang kelak dikemudian hari akan menjadi pelajaran yang berguna bagi generasi selanjutnya agar tidak terulang kembali.

setiap institusi pasti punya sisi kelemahan dan kekurangan namun saya yakin setiap institusi pasti punya keinginan untuk memperbaikinya. rasanya tidak pas judulnya Polri vs KPK krn dua2nya saling bekerjasama dalam menumpas korupsi di negeri kita tercinta.

sama seperti judul blog ini, saya berusaha menjadi polisi masa depan yg harus lebih baik dari pendahulu2 saya sebelumnya.

Rabu, 21 Oktober 2009

Intelijen gagap (repost)

Orang Indonesia sering masih tergagap mendengar kata "intelijen". Entah krn itu memang berasal dr kata serapan, atau krn ada latar belakang historis-kultural ttg makna kata2 itu. Intelijen memang jadi laga utama dalam perang dingin, dmn saat itu intelijen jg mengalami stigmatisasi internal di dalam perjalanan sejarah bangsa kita.

Padahal, intelijen memang harfiahnya adalah kodrat manusia. "Cogito ergo sum". Pemikiranku yang membuat eksistensiku diakui. Meski tak sepenuhnya tepat, hal ini bisa diterima dalam kasus orang yang gila dan anak2 kecil/balita. Mereka dianggap tidak lebih dr sekedar obyek penderita krn tak memiliki "cogito". Intelijen dan intelijensia bahkan mjd unsur utama berpikir, dan berpikir adalah yang mengangkat derajat manusia dr makhluk lainnya. Berpikir, menimbang, menerima informasi dan mempengaruhi orang lain dengan informasi itu, sejatinya telah berkembang dengan pesatnya.

Publik Indonesia masih kerap mengidentifikasi intelijen sebagai "alat" perang. Militeristik, tertutup, dan ekstra kolot. Padahal, zaman telah mengalami revolusi informasi, dimana open source sudah merajalela. Militer dan kelompok strategis masih menjaga feodalisme kekolotannya, padahal pada saat yang sama hampir seluruh masyarakat melakukan pekerjaan itu. Entah itu meneliti, mengamati, melakukan survei pasar, melakukan unras, mendidik siswa, menggosipkan sesuatu, dan banyak lagi kegiatan lain adalah bagian2 dr apa yg bs diberi label : pekerjaan intelijen.

Lalu apa yang membedakan intelijen "induk" yg militeristik dengan anaknya yang "open sourced"? Apa bedanya intelijen yg organized dan sporadic? Yang kovensional dan kontemporer. Yang membedakan adalah manajemen.

Kalangan akademis justru sudah lebih dahulu maju dengan memahami manajemen sistem informatika. Didalamnya, sangat kental dengan nuansa penyelidikan intelijen konvensional, bahkan lebih jauh dan lebih detail. Sampai menyentuh estimasi strategis yang merupakan inti organisasi intelijen.

Dalam hal pengamanan dan kontra intelijen, intelijen konvensional juga tergagap melawan kemajuan ilmu-ilmu sosial spt psikologi, antropologi, sosiologi, yang terus mengembangkan sayapnya menjadi kriminologi, manajemen bencana, dsb. Satu2nya kemajuan intelijen adalah perangkat khusus yang terkesan canggih padahal itu hasil rekayasa teknologi yang sudah berumur 5 tahunan. Di zaman perang dingin, 5 tahun adalah masa yang sebentar bagi kemajuan teknologi, tapi utk zaman ini, 5 tahun bisa menghasilkan puluhan jenjang teknologi. Bisa jadi Radio anda yang berumur 5 tahun, mgkn hrs masuk keranjang sampah jika rusak krn komponennya sudah tak diproduksi lagi.

Jadi kelebihan apa yang dimiliki insan intelijen konvensional-militeristik? Ya itu tadi, sikap OSS (oh so secret) dan pongah ditengah kepungan gajah; tetap optimis dengan apa yang ia hadapi padahal setiap saat ia bisa mati tergencet.

Weits, tunggu dulu. Ada titik cerah bagi mereka yang beragama. Masa depan tak bisa dideteksi spt jadwal kereta api, tak bisa ditolak seperti kuman. Tapi masa depan itu bisa dirangkai melalui tanda-tanda. Siapa yang bisa merangkai tanda-tanda itu, yang membaca tanda itu, lalu memahaminya, dialah yang mampu menguasai masa depan. Disanalah hati berperan: untuk apa dan mau apa, niat dari diri kita akan mempengaruhinya. Ketamakan, keserakahan, dan arogansi akan mengalahkan kecermatan dan keuletan; dan kita akan terjerumus dalam sebuah kehancuran. Sebaliknya semangat kebenaran, prioritas kepada keadilan, akan menuntun kita kepada keberhasilan. Dan semangat kebenaran serta keadilan ada pada agama.

Ayolah, bukan saatnya lagi mencetak uang sendiri. Bukan saatnya lagi membuang energi untuk suatu yang tak perlu. Insan intelijen adalah orang2 yang terbiasa membersihkan hati dari kepentingan, dan merangkai tanda-tanda dalam otaknya. Bukan moneymaker, bukan troubleshooter, bukan juga cape crusader. Siapapun bisa dilatih jadi jago tembak, ribuan orang rela berjibaku melakukan aksi penyelamatan spektakuler, gampang menjadi topeng yang gagah berani dan peran pahlawan yang bisa diandalkan. Tapi topeng itu takkan cukup kuat untuk mengingkari wajah lain yang berada dibaliknya, yang hanya diwakili sepasang mata yang menatap orang2 yang tak bisa melihat wajah dibalik topeng itu. Ia bisa segalanya karena ia adalah Descartes : "cogito ergo sum". "Aku berpikir, karenanya aku ada". Bukannya karena aku terlihat.

Senin, 28 September 2009

Oknum Polisi di Sumsel

udah denger berita kejadian di SUMSEL blum? miris dengernya. oknum polisi, lulusan Akpol lagi, tega membunuh orang gara2 barang haram yg namanya narkoba.
klo bicara tentang harapan masyarakat yang begitu tinggi terhadap polisi, baik itu kinerjanya maupun tingkah lakunya, rasanya kejadian seperti ini sudah pasti menjatuhkan kewibawaan Polri secara keseluruhan. baru saja kita sukses menggulung Noordin M Top, nama kita udah tercoreng oleh ulah satu orang oknum perwira.
dalam kenyataannya, polisi memang tetap manusia biasa yang punya sisi rapuh yang bisa direcoki hal-hal negatif. klo gak ditunjang keimanan yang kuat, sudah pasti sisi yang rapuh itu mudah diobrak-abrik. sehingga muncul oknum-oknum polisi yang tidak mampu menjaga amanah tugasnya.
bagi saya ini menjadi pembelajaran penting. jangan berani-berani menyentuh yang namanya narkoba walaupun itu hanya sekedar coba-coba. bila sudah terkuasai, sulit bagi kita untuk keluar dari jeratnya. pikiran kita jadi gak waras. apapun dilakukan, gak liat lagi siapa dirinya dan apa jabatannya.

SO, JAUH-JAUH YA DARI NARKOBA!!

Jumat, 25 September 2009

Giat Pelatihan di ILEA Bangkok



Personnel and Facility Security Course di ILEA Bangkok selama 2 minggu lamanya. diikuti sekitar 47 peserta dari 10 negara. lumayan nambah wawasan dan teman polisi2 dari negara2 lain. juga sekalian wisata di kota Bangkok.

Selasa, 08 September 2009

WANITA (repost)

Kepada Wanita Cantik ......


Seorang anak laki-laki kecil bertanya
kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?"

"Karena aku seorang wanita", kata
sang ibu kepadanya.

"Aku
tidak mengerti", kata anak itu.

Ibunya hanya memeluknya dan berkata,
"Dan kau tak akan pernah mengerti"

Kemudian anak laki-laki itu bertanya
kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa
alasan?"

"Semua
wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh
ayahnya.

Anak laki-laki kecil itu pun lalu
tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita
menangis.

Akhirnya
ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah
menangis?"

Tuhan berkata:

"Ketika Aku
menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang
istimewa.. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun,
harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku
memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima
penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "
"Aku
memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain
menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa
mengeluh "
"Aku
memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,
bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "
"Aku
memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan
melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya
"
"Aku
memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik
takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan
ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu
"
"Dan
akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah
khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."


"Kau tahu:

Kecantikan
seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia
tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan
seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya -
tempat dimana cinta itu ada."

3 HAL (repost)

3 Hal yang membuat kita kuat:
• IMAN
• PENGHARAPAN
• KASIH
3 Hal yang tidak akan dilupakan:
• CINTA
• KEJUJURAN
• PERSAHABATAN
3 hal yg tidak pernah kembali:
• WAKTU
• PERKATAAN
• KESEMPATAN
3 hal yg menghancurkan:
• KEMARAHAN
• KESOMBONGAN
• KESERAKAHAN
3 hal tidak boleh hilang:
• KASIH
• SUKA CITA
• DAMAI SEJAHTERA
3 Hal yang membuat kita dewasa:
• KESABARAN
• KETULUSAN
• RASA SYUKUR
3 hal tidak pernah kekal:
• HARTA
• JABATAN
• CINTA MANUSIA
3 hal membuat kita berharga:
• KOMITMEN
• KERENDAHAN HATI
• KEJUJURAN

Selasa, 25 Agustus 2009

POLMAS

POLISI DI ONTARIO, KANADA ( ONTARIO PROVINCIAL POLICE ) MERUMUSKAN :

“ COMMUNITY POLICING IS THE DELIVERY OF POLICING SERVICES, RESULTING FROM A COMMUNITY AND POLICE PARTNERSHIP THAT IDENTIFIES AND RESOLVES ISSUES IN ORDER TO MAINTAIN SOCIAL ORDER. “

(COMMUNITY POLICING ADALAH PEMBERIAN JASA PEMOLISIAN, YANG BERASAL DARI KEMITRAAN MASYARAKAT DAN POLISI YANG MENGIDENTIFIKASI DAN MEMECAHKAN BERBAGAI ISUE DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN TERTIB SOSIAL)

SEMENTARA ITU, PASANGAN SUSAN TROJANOWICZ DAN ROBERT TROJANOWICZ :

“ …… ANY METHOD OF POLICING THAT INCLUDES A POLICE OFFICER ASSIGNED TO THE SAME AREA, MEETING AND WORKING WITH THE RESIDENTS AND BUSINESS PEOPLE WHO LIVE AND WORK IN THE BEAT AREA. THE CITIZENS AND POLICE WORK TOGETHER TO IDENTIFY PROBLEMS OF THE AREA AND TO COLLABORATE IN WORKABLE RESOLUTIONS OF THE PROBLEMS. THE POLICE OFFICER IS A CATALYST, MOVING NEIGHBOR-HOODS AND COMMUNITIES TOWARD SOLVING THEIR OWN PROBLEMS, AND ENCOURAGING CITIZENS TO HELP AND LOOK OUT FOR EACH OTHER. “

( ….. METODE PEMOLISIAN APAPUN YANG MENCAKUP PENUGASAN SEORANG POLISI KE WILAYAH YANG SAMA, BERTEMU DAN BEKERJA BERSAMA DENGAN PENDUDUK SETEMPAT DAN PENGUSAHA YANG TINGGAL DAN BEKERJA DI WILAYAH TERSEBUT. WARGA DAN POLISI BEKERJASAMA UNTUK MENGIDENTIFIKASI MASALAH-MASALAH DI WILAYAH TERSEBUT DAN SECARA BERSAMA-SAMA MENYELESAIKANNYA. PETUGAS POLISI BERFUNGSI SEBAGAI KATALISATOR KETETANGGAAN DALAM MEMECAHKAN MASALAH-MASALAH MEREKA SENDIRI, SERTA MENDORONG WARGA UNTUK SALING MENOLONG DAN MEMBANTU SATU SAMA LAIN )

DEFINISI PELAYANAN PEMOLISIAN YANG BERORIENTASI KOMUNITAS, DEPARTEMEN KEHAKIMAN AS ( COMMUNITY ORIENTED POLICING SERVIECES [ COPS ], US DEPARTEMENT OF JUSTICE ) :

“ A POLICING PHILOSOPHY THAT PROMOTES AND SUPPORTS ORGANIZATIONAL STRATEGIES TO ADDRESS THE CAUSES AND REDUCE THE FEAR OF CRIME AND SOCIAL DISORDER THROUGH PROBLEM-SOLVNG TACTIC AND POLICE-COMMUNITY PARTNERSHIPS. ”

( SUATU FALSAFAH PEMOLISIAN YANG MENDORONG DAN MENDUKUNG STRATEGI ORGANISASI UNTUK MENGATASI SEBAB-SEBAB DAN MENGURANGI KETAKUTAN TERHADAP KEJAHATAN SERTA KETIDAK-TERTIBAN SOSIAL MELALUI TAKTIK-TAKTIK PEMECAHAN MASALAH DAN KEMITRAAN POLISI-KOMUNITAS )

PENDEKATAN KEPOLISIAN KONTEMPORER MENEKANKAN UNSUR MASY SEBAGAI “ PEMILIK SAHAM “ ( STAKEHOLDER ) DALAM HAL KEAMANAN MASYARAKAT ITU SENDIRI. INI BERARTI, POLISI BERSAMA-SAMA MASYARAKAT BERUSAHA MENGENALI DAN MEMECAHKAN PERSOALAN-PERSOALAN KEAMANAN MASYARAKAT . NAMUN, HARUS DITEKANKAN DISINI, BAHWA METODE KONVENSIONAL – SEPERTI “ MENUNGGU BOLA “ – JUGA TETAP DIGUNAKAN DALAM METODE KONTEMPORER.

BERDASARKAN BERBAGAI DEFINISI SERTA RUMUSAN TERSEBUT, MAKA TERDAPAT BERBAGAI KOMPONEN ATAU UNSUR COMMUNITY POLICING YANG DISEPAKATI. COMMUNITY POLICING PADA UMUMNYA DIRUJUK SEBAGAI PENDEKATAN KONTEMPORER DALAM PEMOLISIAN. PENDEKATAN INI BERBEDA DARI METODE KEPOLISIAN KONVENSIONAL. DALAM METODE KONVENSIONAL, METODE POLISI UTAMANYA BERSIFAT REAKSIONER. MISALNYA, MENUNGGU LAPORAN MASUK MELALUI TELEPON ATAU SARANA LAIN. JADI, SEMACAM METODE MENUNGGU BOLA. SEBALIKNYA, METODE KONTEMPORER KEPOLISIAN ADALAH “ MENJEMPUT BOLA “.

Kamis, 20 Agustus 2009

Mohon Maaf

Pergi ke daik membeli rambutan,rambutan dibawa dgn skoci,,bulan baik bulan ramadhan,mari kita sambut dgn hati yg suci.Dengan hadirnya ramadhan ini,kami sekeluarga memohon maaf lahir batin

Jumat, 17 Juli 2009

akhirnya bisa liburan

Sebenernya terlalu berlebihan jg sich..krn sering jg libur. Dines di akpol emang beda dgn di wilayah. Walaupun tetap siap bekerja 1x24 jam tp klo tarunanya tidur, pesiar, ibl ato cuti ya kita para pengasuh bisa libur bentar ilangin penat.
Libur kali ini emang agak spesial krn udah beberapa minggu kita disuruh ikut siaga 1 juga, ampe taruna jg gak dpt ijin pesiar. Ditambah lg pagi ini ada kejadian ledakan bom di jakarta, tp ibl tetap dilaksanakan jadi ya cukup menyenangkan bagi kita semua di akpol. Tapi ini khusus pengasuh ama taruna lho.
Ok dech ceritanya berlanjut setelah pulang dari liburan ya...

Senin, 13 Juli 2009

Doa Untuk Sahabat

Seringkali kita dimintai doa oleh sahabat-sahabat kita. Ada yang berharap agar lulus dari ujian, ingin segera mendapatkan jodoh, dapat membina keluarga sakinah, atau yang lainnya.

Kadang doa itu kita panjatkan dan banyak di antaranya malas atau lupa kita melafazkannya. Kita hanya berujar kepada mereka, “Saya hanya bisa mendoakan kamu.” Tetapi kita tidak benar-benar mendoakannya. Kita hanya bisa menyenangkan hatinya dengan kata-kata yang singkat itu.

Tidakkah kita sadari bahwa, orang-orang yang membutuhkan doa dari kita pasti sangat ingin mendapatkan apa yang diinginkannya itu? Namun seringkali kita tidak menindaklanjuti permintaan itu dengan tengadah tangan menghadap Allah. Ketika akhirnya sahabat kita gagal mendapatkan apa yang diinginkannya, kita hanya bisa mengatakan, “Sabar ya, Insya Allah semua ini ada hikmahnya.” Kita mengatakan itu seolah-olah kita telah membantunya secara maksimal.

Sahabatku, sesungguhnya dengan cara seperti itu kita belum termasuk orang-orang yang membahagiakan sahabat kita. Atau mungkin kita termasuk orang-orang yang iri dan dengki ketika melihat sahabat kita bahagia dan berhasil?

Duhai, betapa celakanya kita disebabkan oleh kedustaan kita. Mulut kita mengatakan, “Saya akan mendoakanmu.” Namun ucapan itu tidak pernah terealisasi nyata. Bukankah hal itu tidak ada bedanya dengan mulut-mulut para pendusta?

Sahabatku, orang yg baik akan mendoakan sahabat-sahabatnya sekalipun tidak diminta. Mereka menyebut satu persatu nama sahabatnya dalam doa-doa panjang mereka. Mereka ingin melihat kebahagiaan sahabatnya di dunia maupun akhirat. Mereka ingin sama-sama masuk surga. Jika mereka melihat sahabatnya bahagia, mereka turut bahagia tanpa ada iri dan dengki di dalamnya. Jika melihat sahabatnya sedih, mereka segera membahagiakannya dan mendoakannya dikeheningan malam dengan linangan airmata, agar Allah memberinya kesabaran dan meringankan beban penderitaannya.

Ketika Allah menurunkan rahmat untuk sahabatnya itu, ia sama sekali tidak mengatakan kesana kemari, “Aku yang mendoakan kamu sehingga kamu begini.” Ia hanya mengatakan, “Alhamdulillah, saya sangat senang melihat engkau kini bahagia.” Ia mengucapkannya dengan setulus hati dan merasakan betapa dekat pertolongan Allah itu.

Wahai sahabatku, sudahkah Anda membahagiakan orangtua Anda, sahabat-sahabat Anda, yang membutuhkan pertolongan Anda, walaupun hanya dengan bait-bait doa yang khusyu dikeheningan malam?

Senin, 06 Juli 2009

Selamat Ulang Tahun Bagi Polriku


agak terlamabat memang. tp lebih baik terlamabat daripada tidak sama sekali.







Minggu, 14 Juni 2009

Biaya Pendaftaran

setiap bertemu dengan kawan, keluarga maupun kenalan yang kebetulan salah satu keluarganya ingin mendaftar masuk menjadi anggota polisi, ntah itu secaba, Akpol, PPSS maupun sekarang ada STI selalu saja pertanyaannya adalah "Habis berapa sich biayanya?"
terus terang sebagai anggota polisi saya merasa sedikit tersinggung tapi bila ditelaah lebih lanjut maka ketersinggungan itu berubah menjadi ketersunggingan (he..he..). ya memang harus diakui bahwa jaman dahulu (ntah kapan), budaya suap/uang pelicin itu sudah sering terjadi dan akhirnya berlanjut hingga sekarang walaupun Polri sudah mengumumkan bahwa penerimaan anggota polisi menganut sistem transparan yang artinya smakin sempit peluang penggunaan uang pelicin untuk bisa masuk menjadi anggota polisi.
saya hanya ingin menyampaikan bahwa janganlah kita diperbudak oleh budaya itu. yakinlah klo kita memang bagus pasti akan diterima dan salah satu modalnya adalah persiapkan diri dari sekarang bila memang berniat menjadi anggota polisi (bukan uang lho..). yakinlah bila masyarakatnya bersih maka polisipun akan bersih pula dan yakinlah bila masyarakat tetap menerapkan budaya uang pelicin maka akan ada oknum2 polisi dan yang lainnya yang siap memangsanya.